VIVAnews - Industri telekomunikasi yang selama ini identik dengan teknologi mutakhir sebentar lagi bakal bersentuhan dengan dunia tradisional. Bahkan,industri ini akan bersinggungan dengan kotoran hewan dari sapi.
Suatu saat, jangan heran jika ada sebuah stasiun base tranceiver station (BTS) salah satu operator telekomunikasi yang menggunakan kotoran sapi. Fungsinya, sebagai sumber energi berbentuk biomassa.
"Kami akan mengembangkan green BTS yang ramah lingkungan," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring usai Silaturahmi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Telekomunikasi, Informatika dan Media di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2009.
Tifatul mengungkapkan, ide itu berasal dari dialog dengan Departemen Pertanian (Deptan). Muncul pemikiran, kotoran sapi yang berasal dari peternak dan kelompok tani dapat dimanfaatkan untuk sumber energi BTS pengganti solar atau listrik.
Dari pembicaraan itu terungkap, kotoran dari 10-20 ekor sapi yang disumbangkan Deptan kepada peternak dan kelompok tani dapat menghasilkan biogas. Bahkan mampu menyuplai energi untuk satu BTS.
"Kalau bisa diaplikasikan di beberapa tempat, BTS itu tidak akan memakan banyak solar lagi untuk genset atau menarik kabel listrik. Ini lebih hemat dan ramah lingkungan," kata Tifatul.
Selain program Green BTS, Menkominfo juga mengungkapkan target program kerja 100 hari yang dibebankan presiden kepadanya meliputi pembangunan 100 desa pintar. Konsep desa itu adalah desa yang akan bersentuhan dengan teknologi komputer.
Program lainnya adalah pembangunan 25 ribu desa berdering di 32 provinsi di Indonesia. "100 desa pintar tadi ditargetkan harus sudah selesai sebelum Januari 2010," katanya.
ismoko.widjaya@vivanews.com