Sains & Teknologi
Prediksi Pasar Telekomunikasi

Konsolidasi Operator Bakal Terjadi

Pendapatan industri telekomunikasi nirkabel tumbuh hampir US$80 milyar atau Rp 800 triliun

Kamis, 3 September 2009, 13:14 WIB
Indra Darmawan
   

VIVAnews - Kendati industri telekomunikasi selular mengalami peningkatan yang signifikan, ternyata jumlah operator di Indonesia dinilai sudah terlalu banyak. Oleh karenanya, diperkirakan akan terjadi konsolodasi beberapa operator di masa depan.

Hal tersebut diungkapkan oleh lembaga riset internasional Frost & Sullivan, melalui rilis resmi yang diterima VIVAnews, Rabu 2 September 2009. 

"Walaupun pertumbuhan pendapatan dan jumlah pelanggan ponsel sangat potensial untuk meningkat, pasar Indonesia memiliki terlalu banyak operator selular dan akan terjadi konsolidasi dalam beberapa tahun kedepan," ujar Eugene van de Weerd, Country Manager Frost & Sullivan Indonesia.

Frost & Sullivan memperkirakan, setidaknya ada tiga operator selular yang memiliki basis yang kuat di Indonesia, yakni Telkomsel, Indosat, dan XL, yang kini telah melayani 78 persen dari seluruh pelanggan selular hingga akhir tahun 2008.

Lebih lanjut, operator  juga diperkirakan bakal mengalami penurunan tingkat pendapatan akibat sengitnya persaingan harga, penyebaran jaringan, serta pendapatan rendah dari pelanggan yang akan terus berlanjut.

Walaupun berdasarkan standar industri telekomunikasi masih meraih untung, pendapatan Telkomsel sebelum bunga, pajak, akan mengalami depresiasi dan penurunan pemasukan kembali (EBITDA) sebanyak 5 persen di tahun 2008, ke angka 65 persen.

Di saat yang sama, pesaingnya, Indosat, memperoleh pendapatan EBITDA yang turun 3 persen menjadi 50 persen, sementara EBITDA XL tetap stabil di 42 persen.

Hingga akhir periode 2008, pendapatan industri telekomunikasi nirkabel ini tumbuh hampir US$80 milyar atau sekitar Rp 800 triliun. Indonesia sekaligus menjadi salah satu negara dengan pasar telekomunikasi yang paling kompetitif dengan 11 operator selular, dan kondisi ini hanya dapat disaingi oleh India.
 
Sementara itu, pasar pita lebar (broadband) di Indonesia belum memiliki pertumbuhan yang berarti. Pada akhir tahun 2008, penetrasi komunikasi pita lebar untuk perumahan tidak lebih dari 1,3 persen.

Padahal, secara keseluruhan, jumlah pemakai internet di Indonesia berkisar di angka 11 persen di tahun 2008. Angka tersebut masih tertinggal jauh di belakang negara ASEAN lainnya.

"Pertumbuhan koneksi pita lebar (Broadband Wireline) akan terbatas sebagaimana  Indonesia memiliki kurang dari 10 juta koneksi internet dan 8.5 juta PC pada tahun 2008,” Eugene menerangkan.

Kendati demikian, layanan akses Internet yang paling populer di Indonesia, seperti Speedy dari Telkom, telah membuat kemajuan dengan meningkatkan kecepatan dan pengurangan tarif.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ