Sains & Teknologi

Gadget untuk Membekuk 'Noordin M Top'

Teknologi through the wall surveillance bisa mengetahui obyek yang berada di balik dinding

Rabu, 12 Agustus 2009, 18:09 WIB
Indra Darmawan
Mengintai di balik dinding dengan teknologi TWS  

Please install the Flash Plugin

VIVAnews - Akhirnya hari ini Kapolri mengumumkan identitas asli orang yang diduga sebagai Noordin M Top, Sabtu pekan lalu.

Kini jelas sudah, ternyata jenazah yang bersembunyi di dalam rumah di Temanggung Jawa Tengah, itu ternyata bukan Noordin M Top, melainkan Ibrohim.

Polisi butuh waktu lebih dari 17 jam, 600 anggota tim antiteror Detasemen Khusus 88, ratusan peluru yang dimuntahkan, serta tak kurang dari lima bom berdaya ledak rendah untuk melumpuhkannya. Tapi ternyata, Ibrohim tewas akibat satu luka di bagian punggung, yang itupun merupakan peluru pantulan.

Memang perlu kehati-hatian untuk membekuk Noordin yang dicurigai selalu melilitkan rompi berbahan peledak di tubuhnya. Namun, andaikan saja polisi menggunakan teknologi through-the-wall surveillance  (TWS), mungkin polisi tak perlu melalui drama 'mencekam' selama 17 jam untuk membekuk Ibrohim di dalam rumah.

Sesuai dengan artinya - alat mata-mata tembus dinding, teknologi TWS mampu mengetahui lokasi dan gerak-gerik seseorang yang berada di balik dinding rumah, baik dinding kayu, bata maupun beton.

Dengan teknologi ini, tentara atau penegak hukum bisa mengetahui secara visual (dua dimensi maupun tiga dimensi): berapa orang yang sedang berada di dalam rumah, aktivitas apa yang sedang dilakukan, apakah bergerak atau diam.

Maka, alat ini sangat cocok untuk kegiatan penyelamatan penyanderaan oleh teroris, atau penyergapan seperti kasus Temanggung, karena dapat membantu polisi memperkecil resiko saat aksi dilakukan.

Dari jurnal yang dirilis oleh National Institute of Justice, badan riset di Departemen Kehakiman Amerika Serikat, TWS sebenarnya sudah mulai ada sejak lebih dari 10 tahun lalu.

Badan riset departemen pertahanan AS, Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) telah menggunakan sebuah perangkat portabel bernama Radar Scope Device di perang Irak.

Perangkat RadarScope

Perangkat sebesar telepon dan berbobot 0,6 kg itu mampu mendeteksi obyek manusia yang berada di balik dinding beton selebar 30 cm, hingga jangkauan 15 meter. Belakangan, gadget yang ditenagai oleh dua baterai AA itu diproyeksikan untuk digunakan pasukan SWAT serta penegak hukum di negeri Abang Sam.

Kemudian DARPA juga membuat perangkat SoldierVision, yang mampu menyediakan gambar dua dimensi yang menunjukkan obyek yang berada di balik dinding beton dengan jarak jangkauan yang lebih besar, yakni 18 meter.

Sayangnya, ia tidak memenuhi standar yang ditentukan oleh badan sertifikasi AS FCC. Oleh karenanya dibuat perangkat RadarVision2 yang memenuhi standar ini. Hanya saja, RadarVision2 cuma bisa mendeteksi obyek yang jauhnya setengah dari jangkauan SoldierVision, yakni cuma 9 meter. Harganya sekitar US$ 20.000 atau sekitar Rp 200 juta.

Perangkat RadarVision2

Yang paling mutakhir, adalah perangkat besutan Camero, yang bernama Xaver 800. Perangkat sebesar laptop itu mampu menghasilkan citra 3 dimensi dari obyek yang dipindai di balik dinding dalam jangkauan hingga 20 meter.  Ia juga bisa dioperasikan dari jarak jauh, atau dibawa oleh robot sehingga pengamat perangkat ini akan tetap terlindung dari bahaya.

Tak hanya mampu mendeteksi lokasi obyek di balik dinding, ia juga mampu mengenali bentuk ruangan di balik dinding, tinggi maupun pergerakan obyek yang diamati. Perangkat ini mendeteksi obyek dari balik dinding dengan menggunakan sinyal ultra wide band (UWB).

Xaver800 mampu menampilkan obyek di balik dindingGambar 3D yang ditampilkan Xaver800

Berdasarkan pantulan sinyal yang ia terima, ia merekonstruksikan representasi 3 dimensinya ke dalam gambar visual. Namun, alat ini juga punya kelemahan.

Ia hanya mampu menampilkan gambar berresolusi rendah, tidak seperti gambar video. Tiap piksel pada teknologi TWS, tidak bisa menampilkan gambar obyek asli secara akurat.

Maka, akan sangat sulit membedakan, apakah obyek di balik dinding sedang menggenggam ponsel atau pistol. Ia juga tak mampu menembus dan mendeteksi obyek yang berada di balik dinding berlapis metal. Selain itu, ia juga

Walaupun demikian, mungkin dengan alat ini, Ibrohim bisa dilumpuhkan lebih cepat dari 17 jam, atau bahkan mungkin bisa dibekuk tanpa perlu membunuhnya, sehingga banyak keterangan penting yang bisa dikorek darinya.

• VIVAnews
Rating
Komentar
mark
14/05/2010
jah, polisi juga kan mo eksis, so kegiatannya juga harus diliput oleh media massa. n tetep pencitraan polisi kan harus bagus makannya nangkep orang aja sampe 17 jam.
Balas   • Laporkan
lia
08/04/2010
Indonesia beli dong alat iniii...........
Balas   • Laporkan
Lengobbinbego
30/03/2010
Densus88 Mesti Belajar Sama Densusingoarso...Biar gak Penakut dan Malu-maluin geto Rojer
Balas   • Laporkan
Nomad
13/08/2009
Ada baiknya Densus 88 melakukan latihan bersama dengan "Pasukan Pamong Praja". Karena Pamong Praja kayaknya jauh lebih gesit dan lebih nekat. Tidak butuh ber-jam2 kalo untuk menggerebek 1 rumaqh saja...palingan hanya butuh 15 menit aja.
Balas   • Laporkan
agus
13/08/2009
Terlalu banyak yang berkomentar, sementara situasi di lapangan butuh analisa komperehensif. Bukan hanya asal masuk, tangkap. Resiko adalah hal biasa bagi pasukan anti teror. Tapi lebih baik umbar peluru, dari pada sok jago, ngebet masuk, tapi mati.. dan m
Balas   • Laporkan
Maryam Ngabito
13/08/2009
Siapapun dia.. Nurdin M. Top atau bukan.. yang namanya TERORIS harus dihancurkan..!
Balas   • Laporkan
arik
13/08/2009
kerahkan the master untuk membantu densus 88.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ