Sains & Teknologi

Tim SERIS Bantah Tuduhan Intervensi Asing

Tujuh pengembang teknologi SMS pada tabulasi elektronik adalah orang Indonesia asli.

Jum'at, 10 Juli 2009, 21:18 WIB
Indra Darmawan
Tim pengembang SERIS, sistem tabulasi elektronik berbasis SMS (harry.sufehmi.com)

VIVAnews - Tim SERIS yang menangani sistem tabulasi elektronik menggunakan SMS, membantah tuduhan adanya intervensi asing.

Menurut tim ini, mereka mengembangkan sistem tabulasi berbasis SMS berdasarkan inisiatif mereka sendiri, walaupun dengan kucuran dana dari International Foundation for Electoral System (IFES), sebuah organisasi nirlaba yang bermarkas di Washington DC, Amerika Serikat.

"Bila ada intervensi asing pada tabulasi elektronik ini, kami sendiri sudah berhenti sejak awal," ujar Lead Developer Tim SERIS Riyogarta Pratikto, kepada VIVAnews melalui telepon, Jumat 10 Juli 2009.

Menurut Riyo, sistem SERIS dikembangkan oleh tujuh orang yang semuanya adalah orang Indonesiai. "Para pekerjanya asli orang Indonesia, idenya juga murni dari orang Indonesia. IFES cuma membiayai saja," katanya.

Lebih lanjut, Riyo menjelaskan, terhentinya tabulasi elektronik sejak hari Jumat, bukan dikarenakan oleh adanya intervensi dari pihak asing, melainkan karena data yang masuk ke sistem SMS memang sudah disetop.

Pasalnya, data tabulasi lewat SMS dikirim di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS), dan undang-undang pemilu membatasi pengiriman data di tingkat itu, hingga pukul 24.00 di hari pencontrengan.

Karena berbagai kendala non-teknis, dari 450 ribu TPS di seluruh Indonesia, cuma sekitar 107 ribu TPS yang mendaftarkan nomornya di jaringan SMS pemilu. Sampai Rabu 8 Juli 2009 pukul 24.00, dari 107 ribu TPS tersebut, cuma sekitar 60 ribu TPS yang sukses mengirimkan perolehan suara di TPS-nya menggunakan SMS.

Alhasil, total suara yang terkumpul cuma 18.908.132 suara, atau sekitar 10,72 persen dari 176.367.056 pemilih yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap pemilu pilpres. "Jadi, tabulasi elektronik berhenti, memang karena sudah tidak ada data lagi yang masuk ke sistem," ujar Riyo.

Lebih lanjut, Riyo mengatakan bahwa sistem SERIS adalah proyek pilot, yang bertujuan untuk menunjukkan bahwa sistem SMS merupakan sistem yang cepat, murah dan dapat dihandalkan.

Sebenarnya, sistem ini sendiri sudah ditawarkan kepada KPU sejak pemilu legislatif 8 April 2009 lalu. Namun saat itu KPU memilih teknologi Intelligent Character Recognition. 

Bila hasilnya dibandingkan, SERIS mampu menghimpun lebih dari 10 persen suara dalam satu malam. Sementara pada pemilu legislatif lalu, angka itu baru bisa diraih dalam tempo 11 hari, dengan beberapa masalah yang muncul, seperti server down.

Padahal, secara keseluruhan SERIS cuma membutuhkan 7 server, sementara tabulasi elektronik pada pemilu legislatif menggunakan puluhan server. Dana yang dikeluarkan untuk membangun SERIS, juga sangat murah.

IFES cuma mengeluarkan Rp 500 juta, sudah termasuk dengan biaya tenaga ahli tim. Sementara anggaran KPU untuk TI pada pemilu legislatif, menurut Independent Monitoring Organization, mencapai Rp Rp 234,02 miliar.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ