Sains & Teknologi

Perusahaan Keluhkan Mahalnya Software Asli

Kalau harga murah pasti banyak perusahaan yang tak keberatan membeli.

Selasa, 24 Maret 2009, 16:51 WIB
Indra Darmawan, Muhammad Chandrataruna
Notifikasi Windows Bajakan (china.org.cn)

VIVAnews -- Pemerintah boleh saja melakukan kampanye software legal kepada perusahaan-perusahaan. Tapi di lain sisi, perusahaan juga mengharapkan adanya software proprietari berharga murah.

Dalam acara kunjungan Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (Timnas PPHKI) ke perusahaan asuransi PT Asuransi Jaya Proteksi, Direktur perusahaan itu, Andy Wijaya mengeluhkan mahalnya software asli yang beredar di pasaran. 

"Seharusnya ada perspektif bisnis di sini, Kalau harga software murah, pasti banyak yang akan membeli," ujar Wijaya, saat berdialog dengan Timnas PPHKI dan Business Software Alliance, Selasa 24 Maret 2009.

Dari sisi kualitas dan fungsionalitas, kata Wijaya, tak ada bedanya antara software asli dan software bajakan. Oleh karenanya, kendala yang dirasakan oleh perusahaan kecil dan menengah, menurut Wijaya adalah harga yang terlalu mahal.

Bila harga-harga software proprietari tetap mahal, Wijaya yakin perusahaan-perusahaan tak akan berpikir untuk membeli software legal. Untuk apa membeli software legal karena terpaksa? Bila dipaksakan justru bisa mengganggu cashflow perusahaan," kata Wijaya, di kantornya, di Jl Mangga Besar, Jakarta Pusat.

Menanggapi hal itu, Koordinator Administrasi Timnas PPHKI Anshori Sinungan mengatakan, bahwa pemerintah juga menginginkan harga yang wajar. Namun, ia juga meminta pengusaha juga mau berkorban untuk membeli software asli untuk menjalankan perusahaan mereka.

"Jangan hanya mengharapkan profit 100 persen, sedangkan pengeluaran software 0 persen. Itu kan tidak fair." kata Anshori. Penggunaan software bajakan, bisa menghambat laju industri software lokal maupun asing, kata Anshori.

PT Asuransi Jaya Proteksi sendiri mengaku, sepenuhnya menggunakan software asli. Perusahaan yang berdiri sejak 1963 itu setiap tahunnya menganggarkan biaya belanja di bidang teknologi informasi (TI) sebesar Belanja TI kurang lebih US$ 300 ribu atau sekitar 3,4 miliar, setiap tahun.

Biaya sebesar itu terdiri dari belanja hardware sebanyak US$ 270 ribu, belanja software sebesar US$ 30-50 ribu setahun. Tiap tahun, Wijaya menjelaskan, perusahaannya menambah menambah antara 40-50 karyawan dan sekitar 40-50 unit komputer PC.

Total, ada sekitar 170 unit komputer PC yang dimiliki PT Asuransi Jaya Proteksi, 120 di antaranya berada di Jakarta. Sementara software berlisensi yg digunakan oleh perusahaan asuransi umum itu adalah Microsoft Windows, Microsoft Windows Server, dan Microsoft SQL Server.

Selebihnya, perusahaan itu mengembangkan aplikasi Business Intelligent sendiri dan menggunakan software antivirus tak berbayar, AVG dan Avira. "Pemrosesan data di perusahaan ini, kami prioritaskan. Kalau infrastruktur kami tak berlisensi, tentu kami tidak akan tenang," kata Wijaya.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
hermawan
25/07/2009
kalau harga software asli mahalnya selangit, bagaimana kita masyarakat menengah ke bawah yang baru melek komputer mampu beli pc/notebook yang harus beli software asli yg mahal ?? Kasihan pengguna komputer harga software asli bisa lebih mahal daripada komp
Balas   • Laporkan
ahmad nawawi
24/03/2009
Saya sbg pengguna laptop merk acer tipe aspire 4925, waktu membeli pertama kali mengira os yg terpasang sdh fix, ternyata itu sementara, dan harus dibeli lwt internet. Harganya lumayan mahal untuk office 2007, sdgkan anti virusnya mcafee dihargai dgn $ a
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ