VIVAnews - Toshiba Corp., produsen flash memory terbesar kedua di dunia menyatakan bahwa mereka memasang target menjadi produsen solid state drive (SSD) terbesar. Demi mencapai target itu, mereka harus mendongkrak produksi SSD mereka 15 kali lipat (1500%) dari kapasitas produksi saat ini dalam dua tahun ke depan. Salah satu langkah menuju ke sana, Toshiba menggeser lokasi manufaktur mereka dari Jepang ke Filipina.
Pemindahan lokasi produksi dari Jepang ke Filipina sendiri dimulai sejak kuartal kedua 2009. Awalnya, pabrik di Filipina ini akan membuat SSD berkapasitas 64GB, 128GB, 256GB dan 512GB untuk notebook berbasis flash memori NAND 43 nanometer. Akan tetapi, ke depannya seluruh jajaran produk berbasis flash milik Toshiba akan dibuat di luar Jepang. Seperti VIVAnews kutip dari Xbitlabs, 14 Maret 2009, perpindahan lokasi manufaktur ini selain dapat meningkatkan produktivitas Toshiba, juga akan mereduksi biaya operasional.
Toshiba memperkirakan, pasar solid state drive akan tumbuh pesat dalam dua tahun ke depan dan meningkatkan kapasitas produksi sebesar 1500% akan dapat membantu perusahaan memenuhi permintaan pasar yang tinggi. Jika prediksi Toshiba benar, maka diharapkan harga SSD akan turun secara signifikan dalam 24 bulan ke depan dan permintaan atas media simpan kelas atas akan meningkat. Meski begitu, dalam dua tahun ke depan tampaknya SSD masih sulit untuk menyaingi harga per gigabyte dari harddisk drive konvensional.
Meskipun solid state drive menyediakan sejumlah kelebihan dibanding harddisk drive tradisional seperti performa yang lebih tinggi, konsumsi daya yang lebih rendah dan lebih tahan terhadap guncangan, SSD juga memiliki kekurangan. Setiap flash cell hanya bisa ditulisi dalam jumlah waktu yang terbatas. Selain itu SSD juga masih jauh lebih mahal dibanding harddisk. Khususnya di masa ekonomi sulit seperti ini, harga merupakan faktor yang signifikan.