Sains & Teknologi

Perusahaan Farmasi AS Persoalkan HaKI

Produk asal AS kerapkali dipalsukan dan dijual bebas di Indonesia.

Rabu, 11 Februari 2009, 16:59 WIB
Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini
ilustrasi obat  

VIVAnews - Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat mempersoalkan penegakan hak atas kekayaan intelektual di Indonesia.

"Mereka menyampaikan keluhan tersebut kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla saat berkunjung ke Den Haag, Belanda pekan lalu," kata Ketua Komite Amerika Serikat Kadin Indonesia Sofjan Wanandi kepada VIVAnews di Jakarta, Rabu 11 Februari 2009.

Pasalnya, sebagian besar produk mereka kerapkali dipalsukan dan dijual bebas di Indonesia. Mereka gerah melihat produknya digandakan di Indonesia. Sofjan mengatakan, Wakil Presiden berjanji meninjau ulang aturan HaKI di Indonesia.

Pengusaha farmasi asal Paman Sam itu di antaranya Abbott dan Eli Lilly. "Mereka melaporkan kerugian yang cukup besar dengan beredarnya produk palsu mereka," kata Sofjan yang enggan menyebutkan berapa besar kerugian yang mereka terima.

Sofjan mengakui penegakan HaKI di Indonesia masih sangat lemah. "Masyarakat masih suka mengkopi untuk kepentingan sendiri, bahkan lebih parah lagi untuk dijual lagi," katanya. Selain perusahaan farmasi, perusahaan film, software, dan IT juga mengeluhkan hal yang sama. 

Dalam lawatan ke Den Haag Belanda pekan lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla bertemu dengan beberapa pengusaha asal Amerika Serikat, di antaranya Conoco-Phillips, ExxonMobil, Abbott, Eli Lilly, dan Caterpillar.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ