Sains & Teknologi

Malaysia Lepas Ribuan Nyamuk Demam Berdarah

Didesain untuk mengetahui sampai sejauh mana nyamuk mampu bertahan hidup.

Selasa, 1 Februari 2011, 00:11 WIB
Muhammad Firman
Aedes aegypti, nyamuk penyebab demam berdarah dengue. (www.jakarta.go.id)

VIVAnews - Menurut laporan Institute for Medical Research (IMR), Kuala Lumpur, Malaysia, diam-diam sebanyak enam ribu ekor nyamuk transgenik, yang dikembangkan untuk melawan demam berdarah, dilepas pada 21 Desember lalu. Sama dengan pelepasan nyamuk yang telah dimodifikasi secara genetik di Karibia dan Cayman pada tahun 2009 dan 2010 lalu, pelepasan nyamuk tersebut mengejutkan banyak kalangan dan memicu pro-kontra.

Di Malaysia, nyamuk yang dibuat oleh Oxitec, sebuah perusahaan biologi asal Inggris itu merupakan nyamuk Aedes aegypti--nyamuk pembawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah--jantan yang dimandulkan. Saat nyamuk Aedes betina kawin dengan pejantan-pejantan mandul itu, mereka tidak punya keturunan. Harapannya, populasi nyamuk akan anjlok.

Penelitian yang dilakukan di sebuah kawasan terpencil di Bentong, Pahang, uji coba kali ini didesain untuk mengetahui sampai sejauh mana nyamuk tersebut mampu bertahan hidup dan menjelajah lingkungan.

“Sebanyak enam ribu nyamuk Aedes jantan dilepas untuk diuji coba daya tahannya terhadap lingkungan dan diteliti sampai sejauh mana ia mampu beredar,” kata Luke Alphey, Chief Scientific Officer Oxitec, seperti dikutip dari Sciencemag, 31 Januari 2011. “Penelitian itu sendiri sudah berakhir pada 5 Januari lalu setelah insektisida disemprotkan untuk mematikan nyamuk yang masih hidup."

Oleh sejumlah kalangan, pelepasan nyamuk ini dinilai tergesa-gesa dan terlalu dirahasiakan. Meski demikian, hal tersebut dibantah oleh Oxitec. “Penelitian ini dilakukan oleh pemerintah dan dilaksanakan di Malaysia. Jadi, terserah pemerintah apakah akan mengumumkannya atau tidak,” kata Alphey. “Siapapun yang menyadari bahwa ada 50 sampai 100 juta kasus demam berdarah dengue per tahun di seluruh dunia tentu akan merasakan betapa pentingnya penelitian ini."

Penelitian yang sama yang dilakukan di Grand Cayman tahun lalu sendiri jauh lebih besar skalanya. Di sana, sebanyak tiga juta nyamuk jantan dilepas untuk mengetahui apakah mereka bisa membantu menurunkan populasi nyamuk. Ternyata, dalam laporannya kemudian, populasi nyamuk bisa ditekan hingga 80 persen. “Hasil penelitian yang kami lakukan kali ini telah dikirimkan ke jurnal ilmu pengetahuan,” kata Alphey. (kd)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
sevtian
07/06/2011
i2 bisa d terapin di indonesia ndak ya?? khususnya d wilayah" kumuh yg jd sarang nyamuk..
Balas   • Laporkan
petani_kutho
15/02/2011
coba kalo diterapkan ke manusia.. punah deh.. wkwkwkw..
Balas   • Laporkan
jemz123
01/02/2011
gilaak! eksperimen langsung sama ekosistem, di lab aja masih banyak perdebatan tentang efektivitas nyamuk mandul ini
Balas   • Laporkan
ini udah dilakukan puluhan tahun lalu gan...contohnya pelepasan spesies hama jantan mandul untuk mengurangi populasi hama...daripada pakai DDT
Balas   • Laporkan
jemz123 | 01/02/2011 | Laporkan
setahu saya efektivitasnya masih meragukan pak, dan masih ada kemungkinan mutasi balik
paulozinha
01/02/2011
jadi pengen liat hasilnya.sejarah di belahan lain dunia telah mengajarkan bahwa campur tangan manusia terhadap ekosistem yang 'mapan' akan membuat ketidak-setimbangan yang dahsyat..yang merugikan manusia dan alam.entah untuk ini apa yang akan terjadi ntar
Balas   • Laporkan
paulozinha | 02/02/2011 | Laporkan
saya baca lebih lanjut memang sudah banyak success story nya ya.cuma kawatir ada parameter yang ga terkendali ntarnya dan jadi hal2 yang tidak diharapkan.semoga bagus
galihmuhammadiqbal | 01/02/2011 | Laporkan
ini udah dilakukan puluhan thun lalu bang....contohnya pelepasan sebuah spesies hama jantan mandul...untuk mengurangai populasi hama....daripada pakai ddt
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ