Sains & Teknologi

WNI di Malaysia Kecam Demo-Tinja Bendera

Kebanyakan sudah merasa kerasan tinggal dan mencari nafkah di Malaysia.

Minggu, 5 September 2010, 11:01 WIB
Yuniawan Wahyu Nugroho, Denny Armandhanu
Demo Kedubes Malaysia (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Massa Benteng Demokrasi Rakyat Indonesia (Bendera) menyerukan agar dua juta WNI yang tinggal di Malaysia pulang kampung ke Indonesia sebagai bentuk protes atas penangkapan anggota Kementerian Kelautan dan Perikanan RI oleh polisi Malaysia. Namun, hal ini tidak diindahkan oleh para WNI bermatapencarian di negeri jiran tersebut.

Kebanyakan dari mereka menyatakan sudah merasa kerasan tinggal dan mencari nafkah di Malaysia. Beberapa bahkan telah tinggal puluhan tahun di Malaysia dan sudah menganggap Malaysia sebagai kampung halaman mereka sendiri. 

Salah satu di antara kaum imigran itu adalah Talhaq Bashir, WNI asal Medan yang sudah 25 tahun tinggal di Malaysia. Lelaki berusia 53 tahun yang berjualan jam tangan bekas di Kampung Datuk Keramat, Kuala Lumpur, ini telah merasakan manisnya mereguk rezeki di Malaysia.

Dia enggan menuruti seruan Bendera yang meminta WNI pulang sebagai bentuk protes terhadap Pemerintah Malaysia. Talhaq memuji pendekatan diplomatis yang dilakukan Presiden SBY untuk menyelesaikan permasalahan secara damai.

Yang lain adalah Pariman, lelaki 60 tahun yang bekerja di perusahaan swasta. Dia mengatakan bahwa tindakan dan seruan Bendera tidaklah mencerminkan sikap bangsa Indonesia terkait permasalahan yang ada. Dia juga mengecam demonstrasi yang dilakukan Bendera yang dinilainya tidak pantas. “Demonstrasi adalah bagian dari kehidupan demokrasi di Indonesia, tapi sudah seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang pantas dan damai,” ujarnya seperti dilansir dari laman The Star.

Kebanyakan WNI bekerja di Malaysia sebagai pekerja kasar, pembantu rumah tangga dan buruh, itulah yang tertanam di benak para warga Malaysia. Pariman menceritakan bahwa terdapat beberapa warga Malaysia yang kaget saat mengetahui bahwa lelaki 60 tahun ini adalah seorang insinyur. Mereka tidak mengira bahwa WNI yang bekerja di Malaysia bisa juga berstatus insinyur. “Anggapan itu tidak saya hiraukan,” ujarnya.

Sementara itu, Apandi, 21 tahun, pekerja binatu di Malaysia selama dua tahun, mengatakan tidak menemukan alasan untuk pulang kampung. Dia mengatakan bahwa dia datang ke Malaysia melalui jalan yang sah untuk mencari penghidupan.

“Di Facebook, orang-orang di kampung halaman meminta saya untuk pulang setelah Bendera mengusulkan Indonesia harus memutuskan hubungan dengan Malaysia. Tapi orangtua saya meminta saya tidak menghiraukannya dan menjaga diri selama di kampung orang,” ujar lelaki kelahiran Medan ini.

Thafaul, 25 tahun, mahasiswa pasca-sarjana Universitas Malaya, mengatakan bahwa walaupun mungkin terdapat warga Indonesia yang setuju dengan Bendera, dia tetap berpegang teguh hubungan kedua negara harus tetap berlanjut. “Memutuskan hubungan bukanlah sebuah solusi. Hal itu hanya akan memperburuk situasi. Indonesia dan Malaysia punya banyak kesamaan dan kita mempunyai akar budaya yang sama,” tegasnya.

Kebanyakan WNI yang tidak terpengaruh ajakan Bendera ini menurut Penasihat Sosial, budaya dan Informasi Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia, Widyarka Ryananta, adalah bukti nyata bahwa pekerja Indonesia telah cukup dewasa untuk menentukan pilihan. (Laporan: Denny Andaru | kd)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
jin
17/09/2010
mereka di sini kelaparan apakah pemerintah mau memberi makan?? sekarang kita mikir secara logika mana yang di dahulukan nasionalisme atau perut. DRP study banding buat apa coba (poya" kah)
Balas   • Laporkan
kepincut
16/09/2010
orang diatas hanyalah sebagian dr orang yg sampai sekarang bs sehat di sana,knp kita ga melihat orang yg telah disiksa bahkan hingga tewas.kalau nasi di indonesia masih enak kenapa harus minta ke negara laen.perang memang bkn solusi.tp identitas kt dijara
Balas   • Laporkan
Tony
16/09/2010
Semua pendapat kita kita tentang Malaysia janganlah emosional. Tunjukkan bahwa Bangsa Indonesia bukan bangsa yang bersumbu pendek, tapi Bangsa yang bijaksana. Semua komentar terhadap sesuatu harus didasari kita juga menguasai sesuatu itu...
Balas   • Laporkan
orang bodoh
16/09/2010
Perang??? Memang smudah itu tuk di ucapkan. tapi siapkah jikalau suatu saat nanti sebuah misil atau bom mnyapa rumah kita, rumah ibu kita, rumah saudara kita??? "Kalah jadi abu, menang jadi arang". Brperanglah lewat pendidikan, gunakan otak-mu, not Mouth!
Balas   • Laporkan
malaysia truly maling asia
15/09/2010
alah mreka yg menetap di malaysia sdh tak punya lagi yg namanya harga diri, sdh tau malay itu kurang ajar mash ajja di bela. mata lo kemana hah??
Balas   • Laporkan
raumschiffkapitan | 16/09/2010 | Laporkan
hey, ngga kebalik kang? kita yg tinggal disini malah punya mata, karena kita ngeliat sendiri bagaimana mereka. lha elo yang terkungkum di tanah air ngeliatnya kan dari apa yg TV suguhkan (baca: berita rubbish dan cuma cari rating iklan) bisa aja lo bilang
jambrong
15/09/2010
tki penghianat mendingan di bunuh aja tuh tki
Balas   • Laporkan
Aku Cinta Indonesia
09/09/2010
Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas dinegeri orang bro..
Balas   • Laporkan
mahesa
08/09/2010
diantara semua pendapat saya setuju pendapat cross!!!la..wong pemerintah aja diem aja ..la kita kox yg pusing ...pie to...kritik pemerintah dlu..msa TKI yg pahlawan devisa disalahin....SOK!!!
Balas   • Laporkan
mahesa
08/09/2010
BAGUS!!!! TKI ITU PUNYA PENDAPAT KAYA GTU!!JUSRU TKI LAH PAHLAWAN DEVISA NEGARA BUKAN PENGHIANAT!!MUDAH NYA MENYALAHKAN TKI TU APA KAMU SIAP MEMBERI LAPANGAN ....BISANYA CUMA BILANG PERANG!!DENGER BUNYI PISTOL AJA KEBIRIT2.
Balas   • Laporkan
wirosableng
08/09/2010
LSM bendera itu kepanjangan dari antek penjajah amerika..mereka ingin mengadu domba umat islam dengan atas nama nasionalisme... tetap pertahankan ukhuwah islamiya.. hidup indonesia - malaysia berjaya...
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ