VIVAnews - Pekan lalu, Virgin Blue, maskapai penerbangan terbesar kedua di Australia memecat sejumlah staf mereka. Alasannya, karyawan tersebut tak mengindahkan peringatan agar tidak lagi menonton atau membagikan konten porno lewat jaringan komputer perusahaan.
Meski demikian, karyawan yang dirumahkan tidak menerima keputusan perusahaan. Lima dari 25 karyawan yang kehilangan pekerjaannya pada minggu lalu meyakini bahwa pemecatan mereka tidak adil dan akan mengajukan gugatan ke pengadilan.
Mereka menyebutkan, berbagi materi pornografi telah menjadi hal yang lumrah di kantor-kantor cabang maskapai penerbangan itu selama bertahun-tahun.
“Menyaksikan pornografi di jam kerja telah menjadi hal yang biasa di kantor selama bertahun-tahun,” kata staf Virgin Blue yang tidak ingin disebutkan namanya, seperti dikutip dari Sydney Morning Herald, Jumat 11 Juni 2010. “Para manajer mengetahui hal ini dan membiarkan saja,” ucap staf tersebut.
Staf tersebut menyebutkan, pornografi merupakan hal yang terus beredar di perusahaan. “Film itu dikirimkan pada saya dan saya mengirimnya kembali ke orang lain,” kata staf tersebut. “Dengan alasan itu, perusahaan memecat saya,” ucapnya.
Meski demikian, Virgin Blue bersikukuh bahwa karyawan yang dipecat telah menerima peringatan sebelumnya dan sejumlah staf telah berhenti mengedarkan pornografi di jaringan kantor setelah mendapat peringatan tersebut.
Selain itu, menurut Virgin Blue, selama 18 bulan terakhir mereka telah memecat sejumlah karyawan dengan alasan yang sama. (art)