SURABAYA POST - Menggeliatnya bisnis teknologi informasi (TI) memberikan angin segar bagi penerbit kartu kredit (issuer). Tahun ini, dari sektor TI saja volume penggunaan kartu kredit melonjak 45 persen dibandingkan dengan tahun lalu.
“Semakin besarnya pasar produk TI, serta didorong dengan kemampuan belanja masyarakat yang semakin tinggi membuat kami yakin hingga akhir 2010 pertumbuhan transaksi kartu kredit HSBC di segmen TI terus naik. Paling tidak kenaikannya mencapai 45 persen,” kata Senior Vice President Marketing Cards HSBC Indonesia, Danny H Hadhyan ditemui di Tunjungan Plaza Surabaya, Rabu (26/5).
Danny mencontohkan peluang naiknya penjualan TI bisa dilihat dari makin tergantungnya masyarakat pada layanan internet. Hingga tahun 2012, pengguna jasa internet diperkirakan bisa mencapai 33 juta orang. Sekitar 66 persen pengguna layanan internet tersebut mengaksesnya dari warung internet dan 22 persen lewat mobile phone, termasuk dengan menggunakan smart phone atau dengan menggunakan notebook.
Danny mencatat, realisasi pertumbuhan transaksi kartu kredit HSBC triwulan I/2010 mencapai 35%-45%. Kontribusi sektor TI sendiri dalam total pengguna kartu kredit HSBC mencapai 25 persen, nomor tiga di bawah fashion dan dining yang membagi share hampir sama, sekitar 33 persen.
Mengenai kartu baru, pihaknya lebih fokus menggenjot jumlah transaksi per kartu daripada harus mengeluarkan kartu baru. Saat ini pengguna kartu kredit HSBC mencapai 900.000 orang, hingga akhir tahun ditargetkan jumlah kartu beredar menjadi 1 juta.
“Bila kartunya semakin banyak, biaya-biaya seperti administration fee akan juga terus melonjak. Jadi ibaratnya kami lebih suka mengeluarkan satu juta kartu dengan nilai transaksi rata-rata Rp 500 ribu daripada punya 5 juta kartu dengan nilai transaksi rata-rata Rp 100 ribu,” katanya.
Secara terpisah, Marketing Manager Nokia Indonesia, Eka Anwar mengatakan pertumbuhan bisnis TI, khususnya di sektor mobile sangat potensial. ”Hingga akhir tahun kontribusi internet bergerak bisa naik 25-35 persen,” katanya.
Laporan: Denny Sagita | Surabaya Post