VIVAnews - Rencana Twitter untuk membuka laman mereka kepada pengiklan dengan platform 'Promoted Tweets' dikecam banyak penggunanya. Mereka mengaku tidak menyukai gagasan bahwa Twitter dapat menyusupkan iklan di atas hasil pencarian dan timeline mereka.
Berdasarkan survei yang dilakukan Twitter Sentiment, sebanyak 71 persen pengguna hashtag #promotedtweets bernada negatif. Namun diduga protes ini tidak akan berlangsung lama.
Pertanyaan selanjutnya yang muncul selain kenyamanan adalah efektivitas beriklan melalui Twitter. Jawabannya akan diketahui setelah Twitter selesai melakukan penilaian terhadap pengguna label 'Promoted Tweets'. Nilai diberikan setiap pengguna Twitter mengeklik iklan, me-retweet iklan, atau mengikuti (follow) perusahaan pengiklan.
Erick Schonfeld menulis dalam laman TechCrunch bahwa perusahaan yang memanfaatkan layanan terbaru Twitter ini mendapat keuntungan tambahan selain beriklan. Mereka bisa mengidentifikasi pasar dan membangun brand.
Sebagian besar biro periklanan, menurut Schonfeld, tidak bisa memberikan layanan ini. "Mereka tidak memiliki kesabaran untuk menjalin percakapan sungguhan dengan pemirsa mereka," demikian ditulis Schonfeld.
Platform terbaru Twitter ini mulai beroperasi pada Selasa, 13 April 2010, siang. Laman harian The New York Times melaporkan bahwa platform ini akan memungkinkan perusahaan untuk mendapat label tweet promo di bawah tweet mereka. Awalnya, Promoted Tweets ini hanya akan muncul dalam hasil pencarian.
Rencananya di kemudian hari, fitur ini juga akan memasuki arus Twitter dan aplikasi pihak ketiga seperti TweetDeck dan Tweetie. Namun pengguna Twitter tidak perlu khawatir dibanjiri iklan karena hanya satu label yang diizinkan muncul untuk satu periode tertentu.