VIVAnews - Bagi banyak orang, jejaring sosial hanya tempat untuk mengisi waktu senggang dan berceloteh mengenai makan malam mereka. Namun bagi penderita cacat atau pengidap penyakit kronis, media sosial memiliki peran yang sangat penting.
"Jejaring menyelamatkan hidup saya dan memungkinkan saya terhubung dengan orang lain," kata pengidap multiple sclerosis, Sean Fogerty seperti dikutip laman harian New York Times.
Fogerty baru saja menjalani perawatan mengatasi kanker otak dan kini menghabiskan waktu satu jam setiap hari untuk berbicara dengan pasien lain secara online.
Pew Internet, American Life Project, dan Yayasan Peduli Kesehatan California menemukan bahwa sebagian besar penderita penyakit kronis cenderung tidak memiliki akses internet namun jika mereka terhubung, mereka akan dengan senang hati berbagi mengenai masalahnya.
Para pengidap penyakit ini biasanya berkumpul dalam forum-forum seperti PatientsLikeMe, HealthCentral, Inspire, CureTogether, dan Alliance Health Networks. "Jika mereka bisa membebaskan diri dari jangkar yang menenggelamkan mereka, penderita penyakit kronis bisa memanfaatkan internet dengan baik," kata direktur strategi digital Pew, Susannah Fox.
Misalnya yang terjadi pada Sherri Connell, 46 tahun, mantan model yang mengetahui bahwa dia menderita multiple sclerosisi dan penyakit Lyme saat berusia 27 tahun. Dia mendapat banyak tanggapan atas pengalamannya menghadapi penyakit tersebut yang dia tulis dalam blog pribadinya.
Pada 2008, Connell dan suaminya membuat jejaring sosial bernama My Invisible Disabilities Community. Forum ini kini berisi 2.300 anggota yang menulis tentang penyakit lupus, biaya pengobatan, dan sebagainya.
"Internet merupakan media bagi orang untuk mengungkapkan sesuatu dengan jujur," ujar Connell.
Selain berbagi pengalaman, internet dan media sosial sangat membantu orang-orang yang mengalami keterbatasan bergerak. Misalnya John Linna yang mengenal blog ketika diberitahu bahwa dia harus hidup dengan bantuan ventilator.
"Saat itu dunia kecil saya mulai meluas, dan saya memiliki lingkungan kecil. Rasanya seperti mampir di kedai kopi setiap hari untuk mencari kabar paling baru," kata Linna dalam salah satu tulisannya. Ketika Linna meninggal dunia pada awal tahun ini, pembaca blognya yang tidak pernah bertemu dengan dia sangat merasa kehilangan.