VIVAnews - Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara menilai merosotnya peringkat kapitalisasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk di Bursa Efek Indonesia tidak menggambarkan kinerja dari perusahaan.
Pasalnya hingga kuartal III-2009 lalu, Telkom masih menguasai pangsa pasar industri telekomunikasi dari segi jumlah pelanggan sebesar 52-53 persen.
"Tidak ada hubungan lansung antara harga saham dan kapitalisasi pasar terhadap kinerja Telkom," kata Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa, 23 Maret 2010.
Menurut Said, pihaknya tidak ada melihat adanya masalah terhadap pergerakan harga saham Telkom di BEI. Sebab, harga saham perusahaan telekomunikasi pelat merah dengan kode TLKM tersebut senantiasa mengikuti pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG).
Kendati demikian, Kementerian akan mendorong Telkom lebih agresif dalam melakukan aksi korporasinya termasuk melakukan akuisisi. "Kalau ada yang perlu diakuisi, lakukan saja," kata dia.
Akuisisi tersebut tidak hanya terbatas pada perusahaan-perusahaan di luar negeri melainkan juga perusahaan lokal yang dianggap potensial untuk diakuisi. "Tahun 2010, BUMN betul-betul menjadikannya sebagai tahun pengembangan," ujarnya.
Kementerian, lanjutnya, bahkan mendorong BUMN terbuka untuk mendorong pergerakan harga saham di BEI. Diantaranya melalui penambahan emiten, jumlah saham yang dijual, maupun volume lembar saham.
"BUMN diharapkan menjadi salah satu pencipta pasar modal yang sehat. Untuk penambahan emiten, kami akan prioritaskan pada perusahaan yang sudah dalam proses," kata Said.
PT Astra International Tbk (ASII) berhasil menggusur Telkom sebagai emiten berkapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada transaksi kemarin, perusahaan otomotif itu berhasil menggusur dengan kapitalisasi pasar senilai Rp 162,74 triliun, hanya selisih Rp 455,89 miliar dengan kapitalisasi pasar Telkom yang tercatat Rp 162,28 triliun.
hadi.suprapto@vivanews.com