VIVAnews - Perdagangan bebas ASEAN - China menuai pro dan kontra di masyarakat dewasa ini. Sejumlah produsen lokal merasa serbuan barang-barang impor China akan meningkat tajam dan menghantam sektor pekerja formal.
Di beberapa sektor, produk impor asal negeri Tirai Bambu itu perlahan tapi pasti semakin membanjiri pasar-pasar lokal. Misalnya, alas kaki dan makanan dan minuman. Namun, di sektor elektronik, ancaman tersebut tidak berlaku bagi produsen elektronik asal Korea Selatan dan Jepang.
Di sektor elektronik, menurut General Manager GfK Indonesia Guntur Sanjoyo, dalam partai besar, China masih sulit menyaingi produsen-produsen lokal dan non-lokal, terutama produsen asal Korea Selatan dan Jepang yang cukup gencar memasarkan produknya.
"Jika mengamati sektor elektronik, secara menyeluruh, hanya telepon selular saja yang mampu bersaing di pasar ponsel Indonesia. Itu pun kalau mereka serius," katanya di sela acara penyerahan GfK Award pada sembilan produk LG di Jakarta, Senin 22 Maret 2010.
"Berdasarkan temuan terakhir, sepanjang tahun 2009, impor ponsel merk lokal atau ponsel China mengalami pertumbuhan 20 persen," paparnya.
Namun, untuk urusan elektronik, jika disejajarkan dengan Korea Selatan dan Jepang, China bisa dibuat mabuk kepayang. Pasalnya, menurut Guntur, Korsel dan Jepang lebih berani melakukan investasi di Indonesia. Misalnya saja, membangun pabrik. "(Produsen) China berbeda. Mereka tak berani jor-joran," ucapnya.
Namun demikian, jika pola investasi China berubah, menjadi lebih berani dengan membangun pabrik dan mengembangkan brand-nya di Tanah Air, kemungkinan besar produsen-produsen asal Negeri Tirai Bambu tersebut bisa bertahan dalam jangka panjang.
"Misalnya, upaya branding melalui kerja sama dengan operator dalam paket bundling ponsel Qwerty merupakan satu langkah inovatif yang bisa membuat mereka tetap bertahan," tutur Guntur.