VIVAnews - Kementerian Komunikasi dan Informatika pernah membagi-bagikan handphone (HP) untuk wartawan pada saat menggelar jumpa pers akhir tahun 2009 lalu. Saat itu, Kemenkominfo membagikan doorprize berupa BlackBerry Gemini, Samsung, dan Esia.
Langkah Kemenkominfo itu kontan mendapat reaksi keras dari Dewan Pers dan Aliansi Jurnalis Independen yang menilai acara pembagian HP itu sama saja dengan menyuap wartawan.
Setelah sekian lama, kini Tifatul buka suara tentang acara pembagian HP itu. Ia pun berjanji untuk tidak lagi membagi-bagi HP untuk wartawan.
"Ketika itu, saya baru tahu sore harinya (usai konpers Kemenkominfo) bahwa ada pembagian HP," kata Tifatul di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis 18 Maret 2010.
Ia menjelaskan, saat itu staf Kemenkominfo mengatakan bahwa semua HP itu merupakan hadiah langsung dari operator, bukan dari Kemenkominfo. Dan menurut si staf tadi, hal semacam itu memang sudah biasa dilakukan setiap tahunnya.
"Saya bilang, hal seperti ini jangan diulang lagi di kemudian hari," kata Tifatul menirukan ucapannya kepada staf Kemenkominfo. Ia menegaskan, hal yang salah tentu harus dikoreksi, termasuk pembagian HP kepada wartawan.
Tifatul mengatakan, stafnya bercerita bahwa tiap akhir tahun Kemenkominfo selalu mengundang teman-teman wartawan dan para operator telepon. Selanjutnya, operator-operator akan pasang-pasang banner di Kemenkominfo, sembari menyediakan HP untuk dibagikan kepada wartawan.
Masalahnya, sejumlah HP itu dititipkan operator kepada Kemenkominfo, agar Kemenkominfo yang membagikannya. "Apabila HP itu mau diberikan langsung dari operator kepada wartawan, saya tidak tahu lagi. Boleh atau tidaknya bisa dikaji secara hukum," ujar Tifatul.
Yang jelas, Tifatul berkomitmen untuk mengoreksi kebijakan pembagian HP. Ia mengaku mengerti bagaimana kerja wartawan profesional yang seharusnya.
"Tidak perlu bagi-bagi HP. Tapi wartawan juga perlu makan. Jadi kesejahteraan dan gaji wartawan yang perlu dinaikkan," tandasnya.
ismoko.widjaya@vivanews.com
• VIVAnews