VIVAnews - Menurut laporan ABI Research, smartbook merupakan kuda hitam yang akan mengambil porsi cukup besar di pasar komputer jinjing dalam beberapa tahun ke depan.
Diperkirakan, sekitar 163 juta smartbook akan dijual ke pasaran di seluruh dunia pada tahun 2015 mendatang.
Meski demikian, tampaknya prediksi tersebut merupakan proyeksi yang terlalu optimis, khususnya jika mengingat kenyataan bahwa smartbook tidak mampu menjalankan sistem operasi Windows versi komputer desktop. Apa lagi mereka juga perlu bersaing dengan tablet PC, pembaca e-book, dan juga netbook yang tidak lagi ditujukan untuk segmen tertentu, tetapi sudah pada konsumen umum.
“Karakteristik seluruh produk yang dikategorikan sebagai smartbook dalam penelitian adalah mereka yang tidak menggunakan prosesor x86,” kata Jeff Orr, Senior Analyst ABI Research, seperti VIVAnews kutip dari Fudzilla, 24 Februari 2010. “Kami mendefinisikan smartbook sebagai perangkat berkinerja terbatas yang menjalankan sistem operasi mobile yang selalu terkoneksi, baik lewat Wi-Fi ataupun layanan seluler dan mobile broadband,” ucapnya.
Orr menyebutkan bahwa vendor sebaiknya menghindari dari pembuatan kategori pasar yang baru dan tidak membingungkan konsumen. “Kami yakin bahwa peluang terbaik untuk perangkat ultra mobile ini di pasar adalah memanfaatkan form factor yang ringkas,” ucapnya.
Menurut ABI Research, smartbook seharga di bawah 200 dolar AS memiliki peluang terbaik untuk meraih sukses di pasar.