VIVAnews - Anugerah Nobel Perdamaian 2010 akan diumumkan pada Oktober mendatang.
Komite Nobel, sejak 50 tahun lalu punya kebiasaaan merahasiakan siapa nominasi yang bakal meraih Nobel, hingga nantinya diumumkan.
Komite ini juga tetap tutup mulut meski batas akhir nominasi Selasa 2 Februari 2010, telah terlampaui.
Namun, sepandai-pandainya menjaga rahasia, informasi siapa saja yang dicalonkan meraih Nobel, merembes ke luar. Informasi bocor dari pihak-pihak yang mencalonkan para nominator.
Mereka yang memiliki hak mencalonkan peraih Nobel Perdamaian, diantaranya para mantan peraih Nobel, anggota pemerintahan, politisi, dan profesor yang terpilih masuk dalam komite.
Ketua Partai Konservatif Norwegia, Erna Solberg mengaku dia mencalonkan aktifis hak asasi manusia asal Rusia, Svetlana Gannushkina, dan kelompoknya yang diberi nama Memorial.
Gannushkina mengepalai Komite Bantuan Sipil, yang bekerja di bawah Memorial. Dia aktif membela hak-hak buruh migran.
Memorial, juga sering melancarkan kritik kepada Kremlin. Lembaga ini dengan berani mengatakan pembunuhan aktivis hak asasi, Natalya Estemirova pada bulan Juli 2009 dan penyerbuan kantor Memorial di St Petersburg, dilakukan pihak berwenang Rusia.
"Mereka adalah orang-orang yang berada di garis terdepan membela hak asasi manusia dan berani mempertaruhkan hidup mereka," kata Solberg kepada Associated Press.
Sementara, Kwame Anthony Appiah, profesot filsafat dari Universitas Princenton, mengatakan dia menominasikan Liu Xiaobo, pria asal China yang saat ini mendekam di penjara atas tuduhan pembangkangan. Pencalonan Liu mendapat protes keras dari China.
Kemudian, masuk sebagai nominator adalah mantan Gubernur Illinois, George Ryan - yang saat ini dipenjara dengan tuduhan korupsi. Ryan dicalonkan oleh Francis A Boyle, profesor hukum Universitas Illinois Urbana-Champaign.
Tentu saja bukan karena dia korupsi, Ryan dicalonkan meraih Nobel Perdamaian atas perannya menghapuskan hukuman mati.
Lalu, majalah 'Wired' edisi Italia mencalonkan internet, ya internet, bukan manusia.
Internet dianggap pantas menerima Nobel karena berjasa besar atas perannya mendorong dialog dan demokrasi.
Internet masuk dalam nominasi dengan dukungan pemenang Nobel 2003 asal Iran, Shirin Ebadi.
(AP)