VIVAnews - JT Wang, Chief Executive Officer Acer Group menuduh Dell dan Hewlett-Packard tidak menghabiskan sumber daya yang cukup untuk mempromosikan laptop ultra tipis berbasis platform Consumer Ultra Low Voltage (CULV) Intel.
Alih-alih mempromosikan CULV, Dell dan HP malah memangkas harga notebook entry level mereka untuk mempertahankan penjualan.
Awal tahun ini, Intel dan sejumlah produsen notebook mengungkapkan platform yang disebut CULV alias notebook ultra tipis yang seharusnya populer di kalangan pengguna bisnis biasa karena menggunakan prosesor yang terjangkau dan mampu menghemat dari sisi desain dan manufaktur. Tetapi sayangnya, ternyata penjualan notebook CULV sejauh ini mengecewakan.
Tampaknya, konsumen enggan membeli notebook CULV Intel karena notebook tersebut lebih mahal dibanding notebook biasa, lebih besar dibanding netbook, dan tidak menawarkan performa yang jauh lebih tinggi. Selain itu, vendor notebook juga terpaksa menghemat dari sisi material untuk menjaga biaya produksi tetap rendah. Hal itu mungkin menjadi faktor mengapa notebook tersebut tidak terlalu menarik bagi pengguna.
Melihat kondisi tersebut, disebutkan Intel telah memutuskan untuk fokus ke platform notebook mainstream di 2010 dan mengurangi usahanya mengembangkan dan mempromosikan CULV. Meski demikian, dalam wawancaranya dengan DigiTimes, JT Wang menyebutkan bahwa ia berhasil meminta Intel untuk kembali fokus ke laptop ultra tipis.
“Notebook ultra tipis merupakan produk yang dibutuhkan konsumen. Tetapi, Dell dan HP malah memotong harga notebook mainstream yang membuat notebook ultra tipis menjadi tidak menarik dari sisi rasio harga dan performa,” kata Wang, seperti VIVAnews kutip dari XbitLabs 14 Desember 2009. “Akibat Dell dan HP tidak gencar mempromosikan produk CULV, popularitas notebook ultra tipis secara keseluruhan menurun,” ucapnya.
Meski tidak jelas juga mengapa Acer tidak melakukan usaha habis-habisan untuk mempromosikan laptop ultra tipis, tetapi setidaknya dalam sebuah jumpa pers di Taiwan di awal kuartal kedua lalu, tahun 2010 mendatang mereka akan menghadirkan jajaran notebook ultra tipis terbarunya.
“Selama selisih harga notebook ultar tipis dengan notebook biasa tidak terlalu besar, akan sulit bagi produk tersebut tumbuh ke angka 30 persen dari total pasar notebook,” kata Wang.