Pemerintah dan Sun Microsystems membentuk pusat pengembangan teknologi open source yang diberi nama COSTA (Center for Open Source Technology Awakening).
COSTA akan menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan yang nantinya akan diproyeksikan sebagai bibit inkubasi usaha kecil yang berbasis teknologi open source.
"Ini merupakan langkah strategis dalam menyediakan akses terhadap teknologi open source tercanggih untuk komunitas lokal, secara gratis," ujar Wibisono Gumulya, Country Manager Sun Microsystem Indonesia, pada acara jumpa pers, di Jakarta, Rabu 19 November 2008.
Senada dengannya, Executive Vice President and Chairman of Europe, Middle East, Asia Pacific, and America, Sun Microsystems Inc, Crawford Beveridge, yang juga hadir dalam acara jumpa pers.
"Pusat pengembangan ni menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia beberapa langkah lebih maju, ketimbang negara-negara Asia lainnya, dalam komitmennya di bidang open source."
Director Asia South and India Government Strategy of Sun Microsystems, Jaijit Bhattacharya, mengatakan bahwa Sun antara lain, akan memberikan kontribusi berupa pelatihan-pelatihan, menyediakan kurikulum dan berbagai software open source.
Peran lainnya, membentuk sistem online komunitas, menyediakan best practice open source bagi pemerintah, serta konsultasi gratis bagi organisasi yang hendak mengadopsi teknologi open source.
Sun juga akan menyumbangkan beberapa teknologi open source-nya seperti Java, Open Solaris, NetBeans, dan MySQL, dan Curriki.
COSTA akan dikepalai oleh Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan TI Kementrian negeri RISTEK Kemal Prihatman. Sementara Sun Indonesia menempatkan Business Development Manager-nya, Harry Kaligis, untuk mendukung proyek ini.
Pusat pengembangan ini bakal memanfaatkan infrastruktur open source milik kementrian RISTEK, yaitu Indonesia Goes Open Source (IGOS) Center dan Pusat Pemberdayaan Open Sorce Software (POSS) di berbagai kota maupun kampus.
Pusat pengembangan ini juga akan menjadi penghubung (hub) dari berbagai pengembangan open source yang sudah ada di Departemen Pendidikan Nasional (SEAMOLEC), Departemen Komunikasi dan informatika, dan Departemen Perindustrian (RICE).
Menurut Harry kaligis, selama ini pengembangan open source di empat departemen tadi berjalan sendiri-sendiri. Dengan COSTA, diharapkan akan terjadi sinergi. "Ini akan menjadi program yang sangat panjang. Kita tak menutup kemungkinan departemen lain untuk bergabung," ujar Harry.
Wibisono berharap, semakin banyak pihak yang berpartisipasi dalam COSTA, sehingga pengembangan inovasi teknologi sedikit banyak, akan membantu meningkatkan perekonomian Indonesia.
Inisiatif atas terbentuknya COSTA telah dirintis sejak April lalu. Saat itu, Crawford Beveridge turun langsung untuk melakukan pembicaraan dengan beberapa pejabat pemerintahan. Menurut Beveridge, proyek COSTA tidak akan dijumpai di negara lain di kawasan Asia.
Kendati demikian, beberapa negara lain, seperti Jerman, Prancis, Finlandia, Peru, Brasil, Jepang, Korsel dan India, telah memanfaatkan open source untuk pelaksanaan pemerintahan mereka.
Rencananya, perjanjian kerjasama antara pemerintah dengan Sun Microsystem ini, akan diteken Kamis 20 November 2008 pukul 10.00 wib, di Jakarta.
• VIVAnews