VIVAnews - Bakrie Telecom (BTel) mengklaim bahwa Esia kini tengah memimpin pasar untuk layanan value-added service (VAS). Padahal, layanan tersebut sifatnya hanya sekadar sebagai pelengkap untuk meretensi pelanggan. Kontribusinya juga tidak begitu besar ketimbang layanan suara dan teks.
Klaim tersebut diutarakan Ridzki Kramadibrata, Executive Vice President Marketing, Product, and CRM BTel saat ditemui wartawan usai jumpa pers Esia Pemburu Untung di kantornya, Wisma Bakrie I, Jakarta, 28 Oktober 2009.
“Kita termasuk yang paling agresif untuk layanan VAS (value-added service) di industri,” kata Ridzki. “Misalnya, untuk ring-back tones, game SMS, musik, dan aplikasi-aplikasi lainnya dalam Esia,” ucapnya.
Meskipun kontribusinya tak terlalu besar untuk revenue perusahaan, Ridzki mengatakan, layanan ini tak kalah penting dibandingkan voice dan SMS. “Secara persentase, berapa tepatnya saya tidak bisa bilang. Tapi, kami berani menjamin kami pasti lebih tinggi dari rata-rata industri,” ucapnya.
“VAS memang bukan sesuatu yang kita kejar-kejar atau prioritaskan, tetapi ini lebih kepada pembuktian komitmen kami untuk memberikan nilai layanan yang lebih kepada pelanggan,” ucap Ridzki.
Adapun tujuan BTel dalam menggarap serius layanan VAS adalah untuk meretensi pelanggannya agar tetap puas dengan layanan yang dipersembahkan Esia. “Mungkin bisa dibilang apresiasi kami kepada pelanggan-pelanggan Esia yang setia,” kata Ridzki.
Esia, yang menargetkan 10,5 juta pelanggan pada akhir tahun ini, pada semester I 2009 berhasil mengoleksi 8,9 juta pelanggan, dibanding periode sama 2008 sebanyak 5,4 juta pelanggan.
Pada periode tersebut, BTel melaporkan terjadi penambahan 3,5 juta pelanggan atau tumbuh 63,8 persen. Namun demikian, Ridzki enggan memaparkan besar ARPU (average revenue per user) Esia saat ini.